Category Archives: Ekonomi

Pemasaran Kefir (bagian 2)

Standar
  • Dari pembahasan pada bagian 1, telah disimpulkan bahwa Kelompok Sasaran Utama (KSU) untuk Kefir adalah yang menderita suatu penyakit. Kelompok Sasaran Sekunder (KSS) adalah yang ingin menjaga agar tubuhnya tetap sehat, dan yang telah sembuh dengan Kefir dan tetap mengonsumsi Kefir dengan porsi ataupun jenis yang berbeda agar makin sehat dan bugar.

    KSU merupakan kelompok yang paling tidak rewel terhadap penampilan (appearance), sesuai dengan falsafah bahwa orang sakit cuma punya satu keinginan : sembuh. Terpenting adalah meyakinkan bahwa Kefir dapat memenuhi keinginannya. Dengan demikian testimoni dan bukti merupakan alat penting untuk menunjukkan bahwa kinerja (performance) Kefir dapat menghasilkan kepuasan untuknya (consumer satisfaction).

     Konsumen yang dewasa dan rasional akan mendasarkan keputusannya pada keyakinan terhadap kinerja Kefir melalui testimoni, pembuktian, dan tentunya pengalaman dalam mengonsumsi Kefir, sehingga bersedia melanjutkan. Banyak komoditas yang memiliki kinerja baik, tampilannya tidak menarik. Ambil contoh rokok Djisamsoe dan Djarum Coklat, dua merek yang selalu ada di mana-mana dan dengan kemasan yang berkualitas ‘rendah’. Begitupun bandrek cap Merpati, Tauco cap Macan, kemasan maupun labelnya sangat sederhana, Konon ketika labelnya berubah, malah jadi tidak laku. Penjual herbal yang paling terkemuka di Bandungpun, Babah Kuya, nyaris tidak menggunakan label apapun, dan semua orang yakin akan kualitas produknya.

    Ada penjual mie ayam yang selama 40 tahun, tampilannya nyaris tidak berubah, bahkan ada warung makan yang malah kehilangan pelanggannya setelah bangunannya direnovasi total. Tapi juga ada yang sebaliknya, cuma pangsa pasarnya berubah. Dulu yang banyak makan di warung “Ampera” adalah sopir angkot/bus, tukang becak dan mahasiswa, sekarang rata-rata orang bermobil. Untuk consumer goods, kemasan memang bisa sangat penting.

    Artinya bila suatu citra produk (brand image) telah terbentuk, maka bila penampilan berbeda akan melahirkan penolakan.

    Kefir yang bagus, adalah Kefir buatan rumah (Real Kefir), yang dibuat secara manual oleh orang-orang yang mencintai Kefir. Ini perlu dibedakan dengan commercial Kefir dengan tampilan pabrikan namun khasiatnya lebih rendah. Kepercayaan konsumen pada Kefir akan sejalan dengan kepercayaan konsumen kepada pembuatnya. Ini karena Kefir bukan sembarang ‘consumer goods’, walaupun statusnya makanan, karena fungsinya yang spesifik.

    Hal ini berbeda untuk konsumen ana-anak yang tentu saja tidak rasional. Untuk anak-anak, banyak obat yang dikreasikan sehingga rasanya (taste) enak. Faktor orgnoleptik menjadi pertimbangan yang signifikan, disamping  juga tampilan penyajiannya. Walaupun demikian, perlu diingat bahwa yang membeli itu tetap orangtuanya, sehingga keyakinan terhadap pembuatnya tetap memegang peranan penting. 

    Sementara untuk Kelompok kedua (KSS), adalah untuk orang yang ingin menjaga kesehatannya setelah sembuh dan yang paham bahwa Kefir dapat menjaga kesehatan dan meningkatkan kebugaran. Kelompok ini umumnya adalah orang yang berpendidikan tinggi dan penghasilan menengah ke atas.

    Kemasan Kefir.

    Untuk consumer goods yang berorientasi pangan rekreatif, kemasan dan penampilan ini menjadi sangat penting.  Tapi hal ini baru akan menjadi fokus, ketika Kefir sudah lebih memasyarakat, sehingga citranya bukan hanya pada khasiatnya tapi pada rasanya.

    Rumah Kefir Bandung pernah mencoba berbagai kemasan, mulai botol beling, HDPE, LDPE, PP, PET bahkan cuma kantong plastik saja. Namun kriteria terpenting dalam memilih kemasan ini dapat dirangkum sebagai berikut :

    1. Botol harus transparan, sehingga isinya terlihat. Dengan demikian bila terjadi perubahan fisik Kefir akan segera terdeteksi.
    2. Botol tidak boleh keras, sehingga dalam keadaan normal, dipijit terasa empuk, dan bila tekanan meningkat kelihatan menggembung atau ditekan terasa keras, sehingga membukanya harus hati-hati untuk menghindarkan muncrat. Pernah membawa Kefir di botol beling (bekas Coca-cola 1 liter), dan meledak di dalam mobil. Pengalaman muncrat karena kita tidak bisa mendeteksi tekanan di dalam (botol HDPE putih tidak tembus pandang), sudah sering terjadi.
    3. Muncul kesan bahwa ini adalah Real Kefir yang dibuat secara manual.
    4. Kemasan mudah diperoleh di pasaran dalam jumlah kecil, dan harganya tidak terlalu mahal.

    Akhirnya Rumah Kefir memutuskan untuk menggunakan botol PET seperti umumnya kemasan air mineral. Walaupun demikian, di masa mendatang, bila ada pilihan lain yang memenuhi kriteria ini, pilihan bisa saja berubah.

    Tentu saja ada yang tidak sependapat dengan pendekatan ini, karena bagaimanapun pengalaman setiap orang berbeda.

    Pilihan lainnya adalah mengubah produk, menjadi Kefir komersial. Ini masih dihindarkan, karena faktor kepuasan pada Kefir bukan dari rasanya tapi dari khasiatnya. 

    Varian Kefir.

    Sebagian besar masyarakat dunia hanya mengenal satu jenis Kefir Susu, yang dalam istilah di Komunitas Kefir Indonesia ini disebut dengan Kefir Optima.  Tapi berdasarkan permintaan pasar, kemudian dikembangkan dengan Kefir Prima dan Kefir Bening. Disamping itu, ada Kefir Kolostrum yang bahan bakunya dari Kolostrum Sapi atau Kambing. Ada juga yang membuat Kefir Soya, yang merupakan campuran antara Susu Sapi/Kambing dengan Susu Kedelai.

    Sajian yang sudah memiliki rasa juga dibuat oleh beberapa penggiat, dan kemudian juga ditambah dengan Kefir Frozen (es mambo dan sejenisnya) dan Es Krim Kefir dengan penampilan menarik.

    Perkayaan variasi penyajian Kefir ini tentu berdasarkan pertimbangan marketing mix ini, walaupun tetap saja kekuatan Kefir dibangun atas dasar khasiatnya.

     (Bersambung)

  • Unlike · Follow Post · Report · Wednesday at 10:37pm