Pemasaran Kefir (bagian 1)

Standar
  • Patokan dalam Paduan Memasarkan (Marketing Mix) telah dikenal secara luas dengan 4P (Product, Price, Place, Promotion), yang kemudian ditambah menjadi 7P (plus Process, Physical Evidence/Environment, People), berujung agar Kelompok Sasaran (Target Market) memperoleh kepuasan (Consumer Satisfaction).

     

    Bagian Pertama ini membahas Kelompok Sasaran, dan bentuk kepuasan yang ditawarkan oleh Kefir.

     

    Benang merah dari penentuan kepuasan dari pengguna Kefir ini sempat memakan banyak diskusi, pemikiran, pendapat, persetujuan dan penolakan. Intinya adalah untuk menetapkan citra produk (brand image) Kefir.

     

     

    Kefir sebagai makanan/minuman kesehatan.

     

    Memang, Kefir telah diakui sebagai pangan fungsional. Seperti juga tempe, susu, yoghurt, cincau dsb. Sebagai makanan, syarat mutlak adalah enak. Tambahan predikat ‘fungsional’ berarti memiliki manfaat yang lebih dari gizi yang dikandungnya.

     

    Trade off antara kemudahan memasarkan dan manfaat Kefir menghasilkan Kefir komersial seperti yang dilakukan oleh mendiang Michael Smolyansky dengan Lifeways Kefir yang saat ini memiliki lebih dari 10.000 titik penjualan di Benua Amerika saja. Yang dikorbankan adalah khasiat optimal Kefir yang memiliki lebih dari 60 jenis mikroflora, menjadi hanya 12 jenis saja.

     

    Disini saya merasa berkeberatan, mengingat selama ini saya mendapat manfaat kesehatan dari Kefir yang luar biasa, dan merasa tidak rela bila Kefir disejajarkan dengan pangan fungsional lainnya.

     

    Beberapa uji coba memasarkan Kefir dengan pendekatan makanan kesehatan hasilnya mengecewakan. Sebagai makanan, tingkat ‘enak’nya harus bersaing dengan yoghurt, yakult dan sejenisnya yang telah memiliki varian luas dan sudah terkenal.

     

    Disamping itu, ternyata hanya sebagian kecil masyarakat yang memiliki apresiasi tinggi terhadap kesehatan, sehingga faktor ‘enak’ menjadi pertimbangan yang lebih dominan pada komoditas berlabel ‘makanan’.

     

    Kesulitan dalam menyebarluaskan Kefir dalam jaringan pemasaran adalah tuntutan teknologi distribusi yang mahal, karena karakternya yang mudah rusak, sampai risiko  kemasan meledak, bila penjagaan terhadap kondisi tempat penyimpanan tidak memadai.

     

    Dari situasi ini saya berkesimpulan bahwa Kefir akan sulit berkembang bila citra yang dimunculkan adalah makanan kesehatan, apalagi bila sebagai minuman rekreatif dengan harga yang bersaing.

     

     

    Kefir sebagai obat.

     

    Ini adalah pilihan lainnya, karena ternyata masyarakat Indonesia (atau karakter manusia pada umumnya), lebih mudah diajak ‘sembuh’ daripada diajak ‘sehat’. Cobalah ajak teman untuk rutin olahraga pagi selama 30 menit, seminggu tiga kali, sebagian besar akan menjawab “males ah….”.

     

    Ada pameo: “Orang sehat memiliki seribu keinginan, orang sakit cuma punya satu….”. Yang satu itu : sembuh.

     

    Jadi untuk lebih bersaing, saya memilih mencitrakan Kefir sebagai ‘obat’. Beruntung, kemudian saya memperoleh kalimat petuah dari Hipocrates (bapak kedokteran modern): Jadikan makanan sebagai obatmu, dan obat sebagai makananmu.

     

    Penafsirannya : Makanan harus bisa menyembuhkan, dan obat harus enak.

     

    Ini tepat sekali dengan karakter Kefir, tapi tentunya tidak bisa berdiri sendiri. Keluhan terbesar dari Kefir sebagai ‘makanan’ adalah rasa asam, yang banyak orang tidak suka. Disamping itu ada orang yang juga tidak suka susu, sehingga Kefir berbahan baku susu ini tidak bisa diterima.

     

    Tapi dalam komposisi tertentu rasa asam itu justru menjadi bagian dari sesuatu yang enak, tapi tidak bisa berdiri sendiri. Sama seperti pahit (kopi/coklat), anyir (ikan), asin (garam), yang menjadi enak dalam kombinasi dengan yang lainnya. Kefir akan enak dijadikan bumbu salad, bagian dari es buah, puding/vla, atau ditambah dengan madu dan sirup.

     

    Dengan citra sebagai obat, muncul keberuntungan, yaitu rasa menjadi nomor dua (praktis semua obat itu tidak enak), yang penting menyembuhkan. Kemudian apresiasi yang tinggi muncul karena motivasi pengguna untuk sembuh, sehingga faktor harga menjadi ‘termaafkan’. Ini merupakan hal-hal yang menjadi modal besar untuk mengembangkan Kefir.

     

    Perbedaan terbesar antara obat dan makanan adalah bahwa obat (sebagian besar) merupakan racun yang dikendalikan dosisnya. Sebagai racun, tentunya memiliki efek samping, kelebihan racun tentu menyebabkan keracunan yang bisa berakibat fatal.

     

    Sedangkan makanan adalah sumber gizi dan nutrisi yang memiliki rasa enak. Kelebihan makan, memang tidak baik, tapi dibanding dengan racun, efek buruknya bisa dikatakan tidak ada. Pembatas alaminya adalah “kenyang”.

    Sementara obat nyaris tidak mempunyai pembatas alami, sehingga over dosis mudah terjadi dan berujung pada kematian.

     

    Penggunaan Kefir menggunakan ukuran “porsi” bukan dosis, untuk menunjukkan bahwa Kefir pada dasarnya adalah makanan.

     

     

    Kosekuensi citra Kefir sebagai obat.

     

    Kalau kita membeli Ayam Goreng, kita tak akan pernah bertanya tentang ‘izin Depkes’, atau ‘nomor BPOM’ dan sejenisnya. Bahkan kalau kita mampir di kafe ‘Susu Murni’ dan “Yoghurt’, kita juga tidak bertanya tentang segala macam izin dan nomor pendaftaran. Yang menjadi persoalan hanyalan ‘enak’ dan ‘tidak enak’, atau ‘bersih’ dan ‘tidak bersih’, ataupun hal-hal rekreatif lainnya.

     

    Namun ketika saya membuka kantin, dan menjadikan Kefir sebagai salah satu menu, ada saja orang yang menanyakan izin dan nomor pendaftaran itu.

     

    Padahal saya menjual Kefir tetap dalam status ‘makanan’.

     

    Sesungguhnya seperti halnya makanan yang lain, sejauh produsen hanya menjual di tempatnyua sendiri, tidak diedarkan, izin DepKes (sekarang izin KemenKes) maupun nomor pendaftaran BPOM, yang semuanya merupakan “izin edar”, tidak diperlukan. Walaupun yang dijual ayam goreng, kalau diedarkan (dijual di toko/supermarket), yang lepas dari penguasaan produsennya, maka izin edar diperlukan. (Catatan: Tentang perizinan ini akan dibahas tersendiri).

     

    Khasiat obat diverifikasi melalui berbagai prosedur medis dan laboratorium. Inilah yang menjadi pegangan dunia kedokteran saat ini. Karena itulah, kuatnya hegemoni kalangan paramedis, menjadikan Kefir sulit untuk diterima secara formal sebagai obat, walaupun makin lama makin banyak paramedis yang mengakui hal ini.

     

    Walaupun demikian, di segenap pelosok dunia, preparat penyembuh bukan milik dunia kedokteran modern saja. “Kearifan Lokal”, telah lama dikenal, namun sering diporakporandakan oleh bombardir “obat modern” melalui pasukan industri farmasi yang bernuansa kapitalis, walaupun banyak diantaranya yang merupakan kebohongan besar.

     

    Kearifan lokal tidak didasarkan penelitian ataupun uji klinis formal, melainkan didasarkan atas pembuktian (testimoni, pengalaman) yang berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun.

     

    Sisi inilah yang perlu dipertajam.

    Beruntung, dengan adanya media internet yang sekaligus merupakan dokumentasi yang mudah diakses, testimoni tentang khasiat Kefir makin terlihat dan eksistensi Kefir makin menguat.

     

    Walaupun citra Kefir adalah obat yang sangat berkhasiat untuk berbagai keluhan, namun secara yuridis formal, Kefir tetap merupakan pangan (makana/minuman). Faktor organoleptik tetap harus dikedepankan, walaupun citra sebagai obat harus terus diperkuat.

     

    Namun pencitraan sebagai obat, juga memiliki kelemahan dari segi pemasaran. Begitu seseorang sudah sembuh, maka ia akan berhenti mengonsumsi Kefir. Seperti disebutkan sebelumnya, manusia sering sulit diajak sehat (menjaga kesehatan), namun mudah diajak sembuh (berobat).

     

     

    Kelompok Sasaran & Kepuasan Pelanggan.

     

    Dari bahasan ini jelas bahwa kelompok sasaran (target market) utama adalah orang yang menderita keluhan penyakit. Secara lebih spesifik, penyakit yang dapat disembuhkan oleh Kefir akan dibahas tersendiri.

     

    Karena orang sakit hanya punya satu keinginan, yaitu sembuh, maka kepuasan pelanggan juga menjadi mudah didefinisikan, yaitu : menjadi sembuh (tentunya kemudian menjadi sehat dan bugar sebagai puncak kepuasannya).

     

    (Bersambung)

  • Unlike · Follow Post · Report · Wednesday at 3:15pm
    •  
      Iman Nurman R ː̗̀♍ː̖́ɑ̤̥̈̊n̥†̬̩̊α̇̇̇ªªª°˚˚˚°в̍̍̍̍̊(•̃⌣•̃) …
      July 9 at 8:00pm via mobile · Like · 1
    •  
      Julius Suryapranata Pak Andang apa qta dpt krj sama dgn perguruan tggi ilmu kedokteran ttg keexisan Kefir sbg obat alternative spt produk Jamu?
      July 9 at 9:31pm via mobile · Like · 2
    •  
      Elly Yustika Sari Saya pernah memsuplai kefir selama 3 bulan secara gratis kepada teman suami yang lumpuh,sebelumnya beliau sudah ke alternatif bahkan ke akupuntur seminggu sekali,tapi tidak ada hasil yang signifikan.Setelah konsumsi kefir beliau mengaku enak tidur (sebelumnya tidak nyaman/tdk bisa tidur nyenyak),bisa buang air besar (sebelumnya harus akupuntur dulu baru bisa buang air besar itupun seminggu sekali),tangannya sudah bisa bergerak bahkan bisa dibuat bersandar (tadinya selama 2 tahun tubuh sebelah kanannya kaku),wajahnya cerah,dan luka krn diabetesnya mengering,tapi sekarang rontok sudah usaha saya mencoba menolongnya (karena pengaruh medis kerabat dekatnya),Sekarang setelah 3 bulan beliau tidak konsumsi kefir beliau merasakan deritanya kambuh lagi,dan beliau mencoba menghubungi suami saya lagi,InsyaAllah kalau ada waktu akan segera mampir kerumahnya.
    •  

One response »

  1. Ping-balik: Pemasaran Kefir (bagian 1) | Marinki's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s